WEB BLOG
this site the web

!D!0L09!...............!!!



tEnTaNg !D!0L09!...............!!!


Dalam The World Book Encyclopedia dinyatakan apa yang dinamai dengan Ideologi, tidak didasarkan pada informasi faktual dalam memperkuat kepercayaannya. Orang yang menerima sebuah sistem pikiran tertentu ini cenderung menolak sistem pikiran lain yang tidak sama dalam menjelaskan kenyataan yang sama. Untuk orang-orang ini, hanya kesimpulan yang didasarkan pada ideologi mereka yang dianggap logis dan benar. Karena itu, orang yang secara kuat menganut sebuah ideologi tertentu mengalami kesukaran untuk mengerti dan berhubungan dengan penganut ideologi lain. Bagi Manhheim ideologi, merupakan semacam proyeksi ke depan tentang gejala yang akan terjadi di kemudian hari berdasarkan sistem yang ada. Karenanya dalam pembedaanya secara pokok antara ideologi dan utopia, Mannheim mengutarakan ideologi cenderung memperkuat dan mempertahankan status quo sedangkan utopia akan mengguncang struktur sosial yang ada.

Pertanyaanya kapan sebuah ideologi itu muncul? Mannheim membedakannya dalam tiga jenis utama, pertama ideologi dapat muncul kalau seseorang atau sekelompok orang tidak menyadari lagi incogurensi atau ketidakcocokan diantara gagasan yang ada padanya dan kenyataan yang konkret dihadapi. Kedua, ideologi juga muncul kalau sekelompok orang dapat menyingkapkan ketidakcocokan termaksud, tetapi mereka justru tidak melakukannya karena ada kepentingan yang bersifat pragmatis atau emosional, yang barangkali akan dirugikan kalau ketidakcocokan itu dibuka kedoknya. Ketiga, ideologi juga terbentuk kalau orang melakukan penipuan secara sengaja entah untuk mempertahankan diri atau untuk mencapai satu tujuan dan kepentingan tertentu. Dalam konteks antropologis, tindakan seseorang dalam dunia sosial dibimbing oleh norma dan nilai sosial yang ada dalam dunia simboliknya. Sehingga, dalam prakteknya, orang yang tidak sanggup melakukan apa yang ia percayai akan cenderung mempercayai apa saja yang dilakukannya.

Namun adakah keuntungan dari cara berpikir ideologis? Berpikir ideologis akan membawa kita, bukan semata-mata pada pencarian tentang apa yang benar melainkan juga mengaitkan sebuah gagasan dengan basis keberadaan sosial dan intelektual. Secara dasariah ideologi telah mempertajam konsep perjuangan politis, yang ternyata tidak didasarkan pada kebenaran subyektif melainkan juga kepentingan-kepentingan kolektif yang menjuruskan sebuah arah pemikiran tertentu. Semisal cara berpikir yang menyatakan kalau dalam masyarakat sosialis manusia yang menjadi nomor satu sedangkan dalam masyarakat kapitalis modallah yang menjadi nomor satu. Kapitalisme yang telah memupuk kekuatan dari berbagai kritik kini telah menjelma menjadi ideologi, yang oleh Francis Fukuyuma, dikatakan sebagai akhir dari sebuah proses sejarah. Apa kemahiran ideologi kapitalisme? Pertama kemampuan merumuskan cita-cita sosial yang ada kemungkinan diwujudkan dalam organisasi sosial dan dinamik yang ada. Dengan kata lain dapat menciptakan social feasibility bagi cita-cita politik. Kedua tatanan sosial yang hendak dibangun cukup kuat untuk mampu menimbulkan dinamika baru dalam masyarakat yang tadinya belum ada atau belum ada secara memadai. Ini artinya menciptakan political feasibility bagi suatu pembaharuan sosial.

Akan tetapi sebagaimana dalam studi kritik ideologi, kadangkala penipuan justru bermula dari sana. Karena ketidak-mampuan mengatasi masalah sosial membuat seseorang mengubah sistem simboliknya dalam pikirannya, sehingga sistem simbolik itu dapat mengakomodasi suatu masalah sosial tanpa menimbulkan kontradiksi dan konflik dalam diri orang bersangkutan, sekalipun masalah yang dihadapi tidak diselesaikan. Itulah yang terjadi dalam perkembangan kontemporer kapitalisme, dimana bukan arus barang yang dijadikan arena utama melainkan sektor moneter dan finansial menjadi basis utama bagi tegaknya sistem ini. Apa yang diistilahkan sebagai rezim neo liberalisme bermula dari sana, yakni di kala negara harus dilucuti sejumlah peran sosialnya untuk diberikan sepenuhnya pada sektor swasta. Satu ideologi yang telah mengalahkan dua gagasan besar yang dicuatkan oleh Revolusi Oktober 1917 dan kemudian pada tahun 1989 ketika tembok Berlin hancur. Komunisme sebagai gagasan egaliterian memang tidak hancur berantakan bahkan masih hidup sebagai sebuah kritik, akan tetapi marxisme sebagai kekuasaan negara telah punah.












0 komentar:

Posting Komentar

 

W3C Validations

Cum sociis natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus. Morbi dapibus dolor sit amet metus suscipit iaculis. Quisque at nulla eu elit adipiscing tempor.

Usage Policies